oleh
Tom Finaldin
Dengan banyaknya jaringan
media sosial, sesungguhnya bisa menjadi awal yang sangat bagus untuk memiliki
kemampuan menulis dengan baik. Status-status di facebook, twitter, google plus, black berry, dan lain sebagainya
sesungguhnya pijakan awal yang sangat efektif untuk menulis lebih baik lagi.
Tulisan-tulisan pendek, bahkan hanya satu kata dalam status di jaringan media
sosial merupakan starter teramat kuat
untuk membiasakan menulis.
Dengan memiliki akun di jaringan media sosial, baik satu,
dua, atau lebih, kita harus selalu meng-up
date status agar tetap eksis dan bisa chitt-chatt
dengan teman-teman kita. Kalau dilihat atau dibaca, status-status itu sangat
luar biasa dalam arti berupa tulisan-tulisan pendek, tetapi memiliki ceritera
yang sangat panjang. Maksudnya, tulisan pendek itu pasti punya latar belakang,
punya perasaan, punya tujuan, dan ada keinginan tertentu. Kita mungkin pernah
membaca status yang teramat pendek, misalnya panaaas. Kata itu sesungguhnya lahir dari latar belakang tertentu,
misalnya, kesal karena panas di jalan dalam keadaan terjebak macet atau datang
ke suatu daerah yang memiliki suhu udara sangat tinggi bisa juga karena
memegang benda yang sangat panas. Kata itu pun punya perasaaan seperti kesal,
ingin diperhatikan, atau berbagi kisah dengan teman-temannya tentang situasi
yang sedang dialaminya. Di samping itu, ada keinginan seseorang dengan
mengatakan kata panaaas itu. Minimal, dia ingin dirinya terbebas dari
panas yang dirasakannya.
Kata yang sangat pendek itu merupakan pondasi yang
teramat kuat untuk menciptakan wacana dalam beberapa paragraf. Misalnya, kita
bisa menuliskan penyebab panas yang diakibatkan oleh Matahari siang yang sangat
terik, lalu siksaan menjadi lebih menyakitkan karena kita sedang menggunakan
motor atau mobil tanpa AC. Kita juga bisa menggambarkan situasi kerumitan saat
kemacetan terjadi di jalan raya yang kita lalui. Ada banyak hal di jalan raya
yang bisa kita tulis. Antrian mobil yang sangat panjang. Motor yang
berdesak-desakan rebutan dengan pejalan kaki yang menyeberang. Polisi yang
kelihatan sibuk mengatur lalulintas. Pokoknya banyak yang bisa kita curahkan
dalam tulisan. Di samping itu, kita pun bisa mengemukakan saran-saran yang kita
miliki agar kemacetan tidak terjadi sehingga menghindari panas yang terlalu
menyiksa. Kemudian, kita pun bisa berbagi cara agar panas yang kita rasakan
dapat teratasi, misalnya, berteduh atau minum sirop.
Tulis saja apa pun yang bisa ditulis. Jangan berpikir
takut salah atau jelek. Jangan pedulikan orang yang suka mengkritik tulisan
kita. Mereka itu sok tahu dan hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih
pintar dibandingkan kita. Pendapat mereka itu sangat tidak berguna dan hanya
akan menghambat kita untuk menjadi penulis hebat.
Kembangkan status-status kita menjadi tulisan yang lebih
panjang. Minimal tiga paragraf. Paragraf pertama,
berisi penyebab kita menulis status tersebut. Paragraf kedua, situasi ketika kita menuliskan status tersebut. Paragraf ketiga, tujuan yang kita inginkan dari
menulis status tersebut. Biasakan dalam satu paragraf minimal ada dua kalimat,
tidak masalah jika kalimatnya pendek atau panjang. Jadi, paling tidak, kita
memiliki enam kalimat baru dari satu status yang kita tulis di media sosial
kita.
Jika di dalam media sosial tersebut disediakan ruang
untuk membuat tulisan yang panjang, tulislah sekehendak hati kita asal jangan
menyinggung perasaan orang lain dan menghina simbol-simbol kesucian dan negara.
Biarkan tulisan kita semakin mantap berbarengan dengan kepercayaan diri yang
meningkat. Jangan pedulikan orang-orang sok pintar yang mencoba mengeksiskan
dirinya dengan mengkritik kita. Ingat saja mereka itu sebenarnya manusia rendah
yang kurang perhatian, jadi kerjanya mengejek orang. Jika di dalam media sosial
kita itu tidak tersedia ruang untuk membuat tulisan yang panjang, it’s oke. Kita bisa menggunakan software di Hp, gadget, atau apalah yang
bisa digunakan untuk membuat tulisan yang lebih panjang. Kalau tidak, kita
masih bisa menggunakan kertas dan ballpoint
untuk menulis. Setelah kita membuat status, cari waktu yang tepat untuk
memperpanjang status itu ke atas kertas. Minimal enam kalimat. Hanya enam
kalimat. Do it soon. Dengan demikian,
kita cepat atau lambat akan sangat terbiasa menulis. Dari enam kalimat, bisa
menjadi delapan, sepuluh, bahkan lebih banyak lagi kalimat yang bisa kita
tulis. Kuncinya, biasakan dan pasti akan terbiasa jika membiasakan diri.
Sebenarnya, saya sangat menyarankan jika ditulis saja
dalam kertas, jangan menggunakan alat elektronik. Tulisan di atas kertas itu
bebas virus dan tidak mudah hilang, bahkan bisa menjadi abadi. Sampai saat ini,
tulisan di atas kertas adalah alat yang paling hebat dalam merekam sejarah dari
zaman ke zaman.
Oke, udah ya. Tulis saja apa yang bisa ditulis semau kita
karena kita sedang menuju menjadi seorang penulis hebat.