Thursday, 7 April 2016

Pelatihan Menulis


Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin menjadi seorang penulis, baik fiksi maupun nonfiksi, kami PT Internasional Karir Solusi membuka pelatihan untuk kelas-kelas yang lebih kecil atau pelatihan dengan sedikit jumlah peserta. Biasanya, pelatihan menulis selalu diikuti oleh banyak orang secara masal dan di ruangan kelas yang luas. Bagi mereka yang segera ingin berlatih menulis maupun berkonsultasi mengenai tulisan atau karya ilmiah, harus menunggu ada acara pelatihan tersebut. Untuk mempermudah mereka yang ingin berlatih menulis, kami membuka pelatihan setiap Sabtu dan Minggu di Kafe Maeta Coffee, Jl. Gurame No. 12, Bandung. Jumlah peserta hanya untuk antara 1 s.d. 10 orang. Hal itu disebabkan kapasitas ruangan yang terbatas. Apabila jumlah peserta lebih dari sepuluh orang, tempat bisa menggunakan yang lebih luas dan akan ditentukan kemudian.




            Untuk menjadi seorang penulis yang baik, seorang pemula memerlukan minimal dua belas kali pertemuan. Berbeda halnya dengan mereka yang sudah terbiasa menulis, tidak perlu mengikuti seluruh pertemuan. Setiap orang bisa memilih pelatihan dengan judul tertentu sesuai kemampuannya masing-masing.

            Adapun materi pelatihan yang kami berikan adalah:

1.         Menuangkan gagasan dalam tulisan
2.         Menyusun gagasan menjadi wacana
3.         Menggunakan kata sambung intra dan antarkalimat
4.         Memaksimalkan tanda baca
5.         Menyusun tulisan sesuai kaidah populer dan ilmiah
6.         Teknik menyunting
7.         Berpikir Ilmiah
8.         Mengajukan masalah
9.         Menyusun kerangka teoritis dan hipotesis
10.       Metodologi penelitian (kuantitatif & kualitatif)
11.       Teknik notasi dan daftar pustaka
12.       Melakukan penelitian, pembahasan, sampai kesimpulan
           

            Setiap materi diberikan dalam satu pertemuan. Maksudnya, dalam satu hari satu judul materi. Dengan demikian, kedua belas materi itu disampaikan dalam dua belas hari pula. Hal tersebut untuk lebih memantapkan keterampilan dan kemahiran peserta dalam menulis.



            Trainer atau pelatih dalam pelatihan menulis yang kami selenggarakan adalah Prof. Dr. H. Mohamad Surya; Dr. H. Gunawan Undang, Drs., M.Si.; Tom Finaldin, A.Md., M.Si.; Rudiana, M.Pd., S.L.I.. Setiap trainer adalah para penulis yang sudah menulis banyak buku dan naskah-naskah lain nonbuku. Trainer yang hadir sangat bergantung pada judul materi dan jumlah peserta.




            Setiap peserta berhak atas sertifikat dari PT Internasional Karir Solusi yang ditandatangani oleh trainer dan atau Direktur PT Internasional Karir Solusi; hand out materi; makan siang.



            Biaya yang diperlukan untuk mengikuti pelatihan menulis ini adalah antara Rp150.000-Rp200.000 (seratus lima puluh ribu rupiah sampai dengan dua ratus ribu rupiah) untuk setiap kali pertemuan per peserta. Perbedaan harga ini bergantung dari judul materi dan kelengkapan yang harus kami sediakan untuk peserta.

            Di samping itu pun kami bersedia untuk mengadakan pelatihan di tempat-tempat yang dikehendaki oleh peserta sendiri. Kami memang pernah diminta untuk mengadakan pelatihan di kelas-kelas sekolah, aula sekolah, gedung olah raga, atau hotel pada beberapa kota.


            Bagi yang berminat mengikuti pelatihan menulis yang kami selenggarakan, dapat menghubungi kami di alamat email mangkusantara@yahoo.com, 08882359250, 087722002381, atau Pin 29FFF101.

Thursday, 28 January 2016

Membuat Kerangka Karangan

oleh Tom Finaldin

Sudah dua tahun lalu pendiri Yayasan Al Ghifari Drs. H. Sali Iskandar meminta saya untuk menyusun biografinya. Dia ingin riwayat hidupnya ditulis agar keluarga besar Al Ghifari dapat mengetahui sejarah Al Ghifari secara utuh dan mengenal lebih jelas dan lebih dekat sosok pendirinya sekaligus mengetahui mereka yang memberikan dorongan dan bantuan dalam membesarkan Al Ghifari, Bandung.
            Baru pada awal 2016 saya menyanggupinya karena sebelumnya ada beberapa hal yang harus saya selesaikan terlebih dahulu. Saya memang ingin fokus dalam menulis Yayasan Al Ghifari karena di samping saya sangat mengenal pendirinya, juga akan dibaca oleh orang banyak, baik itu karyawan Al Ghifari, para alumni di unit-unit pendidikan Al Ghifari, maupun masyarakat luas.
            Saat membeberkan keinginannya, Drs. H. Sali Iskandar segera berbicara panjang lebar tentang dirinya berikut berbagai unit-unit kegiatan yang telah didirikannya, baik itu perusahaan komersial, maupun unit-unit pendidikan sejak TK s.d. perguruan tinggi. Segala hal yang dia bicarakan jelas menjadi bahan untuk menulis biografinya. Akan tetapi, agar segala yang dibicarakannya menjadi urutan yang teratur sehingga mudah dipahami dan enak dibaca, harus diklasifikasikan secara kronologis. Oleh sebab itu, diperlukan kerangka karangan yang sangat jelas agar seluruh isi buku tersebut dapat disajikan dengan benar dan tertata rapi sehingga para pembacanya pun dapat mengikutinya dengan sangat baik dan memahami dengan baik pula.
            Kerangka karangan tersebut akan sangat berguna untuk memilih dan memilah berbagai bahan untuk dijadikan naskah biografi sesuai urutan kronologis hidup seseorang. Kerangka ini pun sangat berguna pada saat melakukan wawancara, baik dengan subjek biografinya secara langsung, yaitu Drs. H. Sali Iskandar atau wawancara dengan pihak-pihak lain yang terkait sebagai testimoni atas fase-fase dalam kehidupan tokoh dalam biografi. Di samping itu, kerangka ini pun sangat mempermudah penulis untuk mendapatkan bahan-bahan lain di luar wawancara seperti bahan tertulis dari media massa dan catatan-catatan kerja yang ada di lingkungan Al Ghifari.
            Kerangka karangan tersebut saya susun sebagai berikut.
1. Lingkungan keluarga prakelahiran
- Kehidupan keluarga
- Masyarakat sekitar
- Kondisi alam
2. Situasi keluarga saat lahir
3. Masa kecil prasekolah dalam keluarga
4. Masa kecil prasekolah dalam masyarakat
5. Kehidupan memasuki SD di keluarga
6. Kehidupan memasuki SD di masyarakat
7. Situasi usia SD di sekolah
- Hubungan dengan teman
- Hubungan dengan guru
- Kisah unik: lucu, sedih, kaget, senang, takut, dsb.
8. Situasi usia SD di keluarga dan masyarakat
9. Situasi SMP di sekolah
- Hubungan dengan teman
- Hubungan dengan guru
- Kisah unik: lucu, sedih, kaget, senang, takut, dsb.
10. Situasi SMP di keluarga dan masyarakat
11. Situasi SMA di sekolah
- Hubungan dengan teman
- Hubungan dengan guru
- Kisah unik: lucu, sedih, kaget, senang, takut, dsb.
12. Situasi SMA di keluarga dan masyarkat
13. Lulus SMA
14. Memasuki kuliah/perguruan tinggi
- Hubungan dengan teman
- Hubungan dengan keluarga dan masyarakat di kampung
- Hubungan dengan dosen dan universitas
15. Mengenal calon istri
16. Menikah dan pernikahan
17. Mencari nafkah
18. Membentuk usaha
- Mengumpulkan modal
- Mengumpulkan teman
- Suka duka berwiraswasta
- Berbagi hasil
19. Membentuk usaha penerbitan
- Jatuh-bangun
- Menerbitkan buku dan majalah
- Pandangan orang-orang sekitar
- Pandangan keluarga dan masyarakat
20. Membangun pendidikan
- TK
- SD
- SMP
- SMA
- Universitas
21. Berorganisasi
22. Cita-cita/rencana ke depan


            Demikianlah kerangka karangan yang saya buat. Kerangka tersebut menggambarkan secara singkat tentang apa saja isi buku tersebut dari awal sampai dengan akhir. Pembaca pun akan mudah memahaminya. Tentu saja, kerangka tersebut tidak dapat menjadi gambaran yang jelas mengenai isi buku karena harus dibaca bukunya. Akan tetapi, setiap orang hanya dengan kerangka karangan, akan mudah mengetahui kronologis hidup seseorang dan urutan yang akan ada dalam bukunya.

Tuesday, 8 September 2015

Mengembangkan Status di Media Sosial Menjadi Wacana

oleh Tom Finaldin


Dengan banyaknya jaringan media sosial, sesungguhnya bisa menjadi awal yang sangat bagus untuk memiliki kemampuan menulis dengan baik. Status-status di facebook, twitter, google plus, black berry, dan lain sebagainya sesungguhnya pijakan awal yang sangat efektif untuk menulis lebih baik lagi. Tulisan-tulisan pendek, bahkan hanya satu kata dalam status di jaringan media sosial merupakan starter teramat kuat untuk membiasakan menulis.

            Dengan memiliki akun di jaringan media sosial, baik satu, dua, atau lebih, kita harus selalu meng-up date status agar tetap eksis dan bisa chitt-chatt dengan teman-teman kita. Kalau dilihat atau dibaca, status-status itu sangat luar biasa dalam arti berupa tulisan-tulisan pendek, tetapi memiliki ceritera yang sangat panjang. Maksudnya, tulisan pendek itu pasti punya latar belakang, punya perasaan, punya tujuan, dan ada keinginan tertentu. Kita mungkin pernah membaca status yang teramat pendek, misalnya panaaas. Kata itu sesungguhnya lahir dari latar belakang tertentu, misalnya, kesal karena panas di jalan dalam keadaan terjebak macet atau datang ke suatu daerah yang memiliki suhu udara sangat tinggi bisa juga karena memegang benda yang sangat panas. Kata itu pun punya perasaaan seperti kesal, ingin diperhatikan, atau berbagi kisah dengan teman-temannya tentang situasi yang sedang dialaminya. Di samping itu, ada keinginan seseorang dengan mengatakan kata panaaas itu.  Minimal, dia ingin dirinya terbebas dari panas yang dirasakannya.

            Kata yang sangat pendek itu merupakan pondasi yang teramat kuat untuk menciptakan wacana dalam beberapa paragraf. Misalnya, kita bisa menuliskan penyebab panas yang diakibatkan oleh Matahari siang yang sangat terik, lalu siksaan menjadi lebih menyakitkan karena kita sedang menggunakan motor atau mobil tanpa AC. Kita juga bisa menggambarkan situasi kerumitan saat kemacetan terjadi di jalan raya yang kita lalui. Ada banyak hal di jalan raya yang bisa kita tulis. Antrian mobil yang sangat panjang. Motor yang berdesak-desakan rebutan dengan pejalan kaki yang menyeberang. Polisi yang kelihatan sibuk mengatur lalulintas. Pokoknya banyak yang bisa kita curahkan dalam tulisan. Di samping itu, kita pun bisa mengemukakan saran-saran yang kita miliki agar kemacetan tidak terjadi sehingga menghindari panas yang terlalu menyiksa. Kemudian, kita pun bisa berbagi cara agar panas yang kita rasakan dapat teratasi, misalnya, berteduh atau minum sirop.
            Tulis saja apa pun yang bisa ditulis. Jangan berpikir takut salah atau jelek. Jangan pedulikan orang yang suka mengkritik tulisan kita. Mereka itu sok tahu dan hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih pintar dibandingkan kita. Pendapat mereka itu sangat tidak berguna dan hanya akan menghambat kita untuk menjadi penulis hebat.

            Kembangkan status-status kita menjadi tulisan yang lebih panjang. Minimal tiga paragraf. Paragraf pertama, berisi penyebab kita menulis status tersebut. Paragraf kedua, situasi ketika kita menuliskan status tersebut. Paragraf ketiga, tujuan yang kita inginkan dari menulis status tersebut. Biasakan dalam satu paragraf minimal ada dua kalimat, tidak masalah jika kalimatnya pendek atau panjang. Jadi, paling tidak, kita memiliki enam kalimat baru dari satu status yang kita tulis di media sosial kita.

            Jika di dalam media sosial tersebut disediakan ruang untuk membuat tulisan yang panjang, tulislah sekehendak hati kita asal jangan menyinggung perasaan orang lain dan menghina simbol-simbol kesucian dan negara. Biarkan tulisan kita semakin mantap berbarengan dengan kepercayaan diri yang meningkat. Jangan pedulikan orang-orang sok pintar yang mencoba mengeksiskan dirinya dengan mengkritik kita. Ingat saja mereka itu sebenarnya manusia rendah yang kurang perhatian, jadi kerjanya mengejek orang. Jika di dalam media sosial kita itu tidak tersedia ruang untuk membuat tulisan yang panjang, it’s oke. Kita bisa menggunakan software di Hp, gadget, atau apalah yang bisa digunakan untuk membuat tulisan yang lebih panjang. Kalau tidak, kita masih bisa menggunakan kertas dan ballpoint untuk menulis. Setelah kita membuat status, cari waktu yang tepat untuk memperpanjang status itu ke atas kertas. Minimal enam kalimat. Hanya enam kalimat. Do it soon. Dengan demikian, kita cepat atau lambat akan sangat terbiasa menulis. Dari enam kalimat, bisa menjadi delapan, sepuluh, bahkan lebih banyak lagi kalimat yang bisa kita tulis. Kuncinya, biasakan dan pasti akan terbiasa jika membiasakan diri.

            Sebenarnya, saya sangat menyarankan jika ditulis saja dalam kertas, jangan menggunakan alat elektronik. Tulisan di atas kertas itu bebas virus dan tidak mudah hilang, bahkan bisa menjadi abadi. Sampai saat ini, tulisan di atas kertas adalah alat yang paling hebat dalam merekam sejarah dari zaman ke zaman.


            Oke, udah ya. Tulis saja apa yang bisa ditulis semau kita karena kita sedang menuju menjadi seorang penulis hebat.

Tuesday, 18 August 2015

Menyerap Bahan Tulisan

oleh Tom Finaldin

Untuk bisa menulis, hal pertama yang harus dimiliki adalah bahan-bahan untuk ditulis. Hal ini ibarat membuat kue. Untuk membuat kue, tentunya harus memiliki bahan-bahannya. Tidak mungkin kita dapat membuat kue tanpa memiliki bahan-bahan yang diperlukan. Demikian pula dengan menulis, kita harus memiliki bahan-bahan untuk ditulis.

            Kesulitan yang muncul biasanya karena seseorang ingin menulis sesuatu yang disebabkan “harus” menulis, misalnya, tugas sekolah, kerja, penelitian, skripsi, Penelitian Tindakan Kelas, tesis, dan disertasi. Bagi penulis pemula, tentu saja kondisi “terpaksa menulis” ini akan membuat tekanan luar biasa bagi dirinya. Artinya, dia ingin menulis dengan tujuan tertentu, tetapi belum memiliki kebiasaan untuk menulis. Akibatnya, tak ada tulisan apa pun yang dihasilkan.

Adakalanya pula orang yang ingin menulis tanpa ada situasi yang memaksa, tetapi kesulitan untuk memulainya.

Dari mana harus mulai?

Apa yang harus ditulis?

Untuk penulis pemula, sudah semestinya bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya memiliki bahan untuk ditulis?

Kalau sudah, tulislah jangan ragu sedikit pun. Jangan berpikir hasilnya nanti bagus atau tidak. Jangan pula bayangan “salah menulis” menghambat kita untuk mulai menulis. Target menulis dengan hasil “bagus” dan “benar” adalah hambatan besar yang ada di dalam diri penulis pemula. Seharusnya, target-target itu tidak pernah ada. Biarkan pikiran kita berkembang sejadi-jadinya dan tangan kita menulis sekehendak hati kita.

Bahan-bahan untuk dijadikan tulisan sebenarnya sangat banyak, ada di sekeliling kita. Kita hanya harus menggunakan seluruh indera yang kita miliki untuk menyerap bahan-bahan tulisan tersebut. Kita memiliki mata, telinga, lidah, hidung, kulit, perasaan, dan khayalan untuk dijadikan alat-alat yang dapat menyerap berbagai macam bahan yang dapat kita tulis.


Mata

Mata adalah alat yang kita gunakan sehari-hari untuk melihat. Hasil dari penglihatan kita dapat menjadi bahan untuk menjadi sebuah tulisan. Misalnya, ketika kita duduk di meja kantor, kita melihat barang-barang di meja kerja kita. Setiap barang yang kita lihat, dapat menjadi bahan tulisan. Jika melihat sebuah buku, kita bisa menuliskan tentang bentuknya, warnanya, ukurannya, letaknya di atas meja, kegunaannya, dan isinya. Jika ingin memanjangkan tulisan tentang buku tersebut, kita bisa menambahinya yang bukan sekedar fisik dari buku tersebut. Kita bisa menuliskan ke mana saja buku itu kita bawa, di mana kita simpan ketika dalam perjalanan, dari mana buku itu didapat, berapa harganya, kapan kita mendapatkannya, dan sebagainya. Dari buku tersebut, kita bisa menuliskan banyak hal hingga berlembar-lembar kertas. Tentu saja, hal yang paling mudah kita tulis adalah fisik buku tersebut yang kita lihat saat itu saja.

          Apalagi jika kita melihat seseorang yang membuat kita tertarik atau kita menyukainya. Kita bisa menulis tentang wajahnya, hidungnya, matanya, rambutnya, caranya berjalan, dan masih banyak lagi.

            Mata adalah alat penyerap data yang sangat efektif untuk dijadikan bahan tulisan.


Telinga

Kita dapat menggunakan telinga untuk menyerap bahan tulisan. Jika mendengar suara bising misalnya, kita bisa menulis bagaimana bisingnya suara tersebut sehingga kita merasa terganggu. Kita bisa mengembangkan kekesalan kita terhadap suara tersebut. Kita pun dapat menuliskan sumber suara tersebut, apa yang menyebabkan kebisingan itu, apa akibatnya bagi lingkungan sekitarnya. Di samping itu, kita pun dapat menuliskan bagaimana cara menghilangkan kebisingan tersebut atau sikap kita untuk menghindarinya.

            Demikian pula jika mendengar suara indah yang merdu, kita bisa menggambarkan rasa senang kita, mendeskripsikan asal suara, dan melukiskan lingkungan sekitar suara itu. Suara-suara yang menyenangkan itu bahkan bisa mendorong perasaan kita untuk melukiskan sesuatu yang romantis atau sesuatu yang membahagiakan.


Hidung

Dengan menggunakan hidung sebagai alat indera penciuman, kita bisa menuliskan bau yang tidak sedap dan wangi-wangian yang menyenangkan. Kita dapat melukiskan asal bau, akibat dari bau tersebut, benda yang menghasilkan wangi-wangian, serta sikap manusia terhadap bau atau wangi tersebut.


Tangan

Tangan kita pun dapat menyerap bahan tulisan. Jika kita memegang sesuatu, kita bisa menuliskan tentang sesuatu tersebut, misalnya, kekerasan atau kelembutannya; dingin, hangat, atau panas; ukurannya; bentuknya; jenis materialnya; kegunaannya.


Kulit

Kulit kita adalah alat peraba yang sangat efektif. Kulit kita bisa merasakan sakit, nyaman, gatal, cuaca, dan lain sebagainya. Hal-hal yang dirasakan kulit kita dapat menjadi bahan tulisan yang bisa berkembang lebih jauh. Misalnya, ketika kulit tangan kita menyentuh kulit tangan seseorang yang kita cintai, kita pun dapat menuliskan perasaan kita atas peristiwa tersebut.


Lidah

Lidah kita merupakan alat yang sangat baik untuk menyerap bahan tulisan. Kita bisa menuliskan tentang rasa buah-buahan, makanan ringan, makanan berat, minuman, dan sebagainya. Kita pun dengan mudah dapat menuliskan penilaian kita terhadap makanan atau minuman yang kita rasakan lewat lidah kita. Dari lidah pun kita dapat membuat tulisan yang sangat panjang, misalnya, ketika kita memakan suatu buah-buahan yang pada awalnya manis, tetapi rasa manis itu lama-kelamaan menjadi pahit dan kesat, rasa penasaran kita terhadap fenomena rasa itu akan menuntun kita untuk mencari lebih jauh mengenai hal tersebut dan akan membuat tulisan kita semakin panjang, lebih menarik, dan lebih informatif.


Pikiran

Pikiran kita pun dapat menjadi alat yang sangat hebat untuk mendapatkan bahan tulisan. Pikiran ini digunakan sebagai alat penyerap bahan tulisan, biasanya oleh mereka yang sudah mahir menulis. Hal itu disebabkan bahan-bahan yang didapat dari proses berpikir lebih rumit dibandingkan bahan yang didapat oleh mata, telinga, hidung, tangan, kulit, atau lidah. Para penulis yang menggunakan pikiran ini sudah lebih mampu mengorganisasikan ide-idenya sejak dalam pikiran sebelum dituangkan dalam tulisan. Bahkan, melalui pikiran ini, penulis dapat mengkhayalkan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi seolah-olah benar-benar terjadi dalam kenyataan sehingga membuat kisah sendiri dalam dunia tersendiri.


Menulis Sampai Buntu

Ketika salah satu alat penyerap kita mendapatkan “sesuatu”, segeralah tulis ketika waktunya ada dan pasti ada. Tulislah sesuatu berdasarkan apa yang diserap oleh alat penyerap bahan tulisan kita. Tulislah jangan berhenti hingga kita merasa kehabisan bahan untuk ditulis. Tulislah sampai kita merasa buntu dan tak mampu lagi untuk menulis tentang sesuatu tersebut.

            Biasakanlah menulis terus-menerus yang ringan-ringan, jangan takut salah, dan jangan takut jelek. Kebiasaan kita menulis akan mendorong otak kita untuk berpikir lebih sistematis dan menulis lebih kronologis. Hasilnya akan kita ketahui jika kita sudah mulai menulis dan terbiasa untuk menulis apa saja.

            Simpanlah tulisan tersebut, jangan sampai hilang karena suatu saat tulisan-tulisan tersebut akan menjadi sebuah tulisan baru yang jika digabungkan akan menjadi suatu rangkaian yang mengagumkan. Bahkan, kita tidak akan mempercayainya bahwa kita bisa menulis sebagus itu. Hal ini hanya bisa dilihat dan dirasakan jika kita sudah terbiasa menuliskan sesuatu. Jika tidak, kita hanya memiliki keinginan menulis tanpa pencapaian yang berarti.