oleh
Tom Finaldin
Untuk bisa menulis, hal
pertama yang harus dimiliki adalah bahan-bahan untuk ditulis. Hal ini ibarat
membuat kue. Untuk membuat kue, tentunya harus memiliki bahan-bahannya. Tidak
mungkin kita dapat membuat kue tanpa memiliki bahan-bahan yang diperlukan.
Demikian pula dengan menulis, kita harus memiliki bahan-bahan untuk ditulis.
Kesulitan yang muncul biasanya karena seseorang ingin
menulis sesuatu yang disebabkan “harus” menulis, misalnya, tugas sekolah, kerja,
penelitian, skripsi, Penelitian Tindakan Kelas, tesis, dan disertasi. Bagi
penulis pemula, tentu saja kondisi “terpaksa menulis” ini akan membuat tekanan
luar biasa bagi dirinya. Artinya, dia ingin menulis dengan tujuan tertentu,
tetapi belum memiliki kebiasaan untuk menulis. Akibatnya, tak ada tulisan apa
pun yang dihasilkan.
Adakalanya
pula orang yang ingin menulis tanpa ada situasi yang memaksa, tetapi kesulitan
untuk memulainya.
Dari
mana harus mulai?
Apa
yang harus ditulis?
Untuk
penulis pemula, sudah semestinya bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya memiliki bahan untuk ditulis?
Kalau
sudah, tulislah jangan ragu sedikit pun. Jangan berpikir hasilnya nanti bagus
atau tidak. Jangan pula bayangan “salah menulis” menghambat kita untuk mulai
menulis. Target menulis dengan hasil “bagus” dan “benar” adalah hambatan besar
yang ada di dalam diri penulis pemula. Seharusnya, target-target itu tidak
pernah ada. Biarkan pikiran kita berkembang sejadi-jadinya dan tangan kita
menulis sekehendak hati kita.
Bahan-bahan
untuk dijadikan tulisan sebenarnya sangat banyak, ada di sekeliling kita. Kita
hanya harus menggunakan seluruh indera yang kita miliki untuk menyerap
bahan-bahan tulisan tersebut. Kita memiliki mata, telinga, lidah, hidung,
kulit, perasaan, dan khayalan untuk dijadikan alat-alat yang dapat menyerap
berbagai macam bahan yang dapat kita tulis.
Mata
Mata adalah alat yang kita
gunakan sehari-hari untuk melihat. Hasil dari penglihatan kita dapat menjadi
bahan untuk menjadi sebuah tulisan. Misalnya, ketika kita duduk di meja kantor,
kita melihat barang-barang di meja kerja kita. Setiap barang yang kita lihat,
dapat menjadi bahan tulisan. Jika melihat sebuah buku, kita bisa menuliskan
tentang bentuknya, warnanya, ukurannya, letaknya di atas meja, kegunaannya, dan
isinya. Jika ingin memanjangkan tulisan tentang buku tersebut, kita bisa
menambahinya yang bukan sekedar fisik dari buku tersebut. Kita bisa menuliskan
ke mana saja buku itu kita bawa, di mana kita simpan ketika dalam perjalanan,
dari mana buku itu didapat, berapa harganya, kapan kita mendapatkannya, dan
sebagainya. Dari buku tersebut, kita bisa menuliskan banyak hal hingga
berlembar-lembar kertas. Tentu saja, hal yang paling mudah kita tulis adalah
fisik buku tersebut yang kita lihat saat itu saja.
Apalagi jika kita melihat seseorang yang membuat kita
tertarik atau kita menyukainya. Kita bisa menulis tentang wajahnya, hidungnya,
matanya, rambutnya, caranya berjalan, dan masih banyak lagi.
Mata adalah alat penyerap data yang sangat efektif untuk
dijadikan bahan tulisan.
Telinga
Kita dapat menggunakan
telinga untuk menyerap bahan tulisan. Jika mendengar suara bising misalnya,
kita bisa menulis bagaimana bisingnya suara tersebut sehingga kita merasa
terganggu. Kita bisa mengembangkan kekesalan kita terhadap suara tersebut. Kita
pun dapat menuliskan sumber suara tersebut, apa yang menyebabkan kebisingan
itu, apa akibatnya bagi lingkungan sekitarnya. Di samping itu, kita pun dapat
menuliskan bagaimana cara menghilangkan kebisingan tersebut atau sikap kita
untuk menghindarinya.
Demikian pula jika mendengar suara indah yang merdu, kita
bisa menggambarkan rasa senang kita, mendeskripsikan asal suara, dan melukiskan
lingkungan sekitar suara itu. Suara-suara yang menyenangkan itu bahkan bisa
mendorong perasaan kita untuk melukiskan sesuatu yang romantis atau sesuatu
yang membahagiakan.
Hidung
Dengan menggunakan hidung
sebagai alat indera penciuman, kita bisa menuliskan bau yang tidak sedap dan
wangi-wangian yang menyenangkan. Kita dapat melukiskan asal bau, akibat dari
bau tersebut, benda yang menghasilkan wangi-wangian, serta sikap manusia
terhadap bau atau wangi tersebut.
Tangan
Tangan kita pun dapat
menyerap bahan tulisan. Jika kita memegang sesuatu, kita bisa menuliskan
tentang sesuatu tersebut, misalnya, kekerasan atau kelembutannya; dingin,
hangat, atau panas; ukurannya; bentuknya; jenis materialnya; kegunaannya.
Kulit
Kulit kita adalah alat
peraba yang sangat efektif. Kulit kita bisa merasakan sakit, nyaman, gatal,
cuaca, dan lain sebagainya. Hal-hal yang dirasakan kulit kita dapat menjadi
bahan tulisan yang bisa berkembang lebih jauh. Misalnya, ketika kulit tangan
kita menyentuh kulit tangan seseorang yang kita cintai, kita pun dapat
menuliskan perasaan kita atas peristiwa tersebut.
Lidah
Lidah kita merupakan alat
yang sangat baik untuk menyerap bahan tulisan. Kita bisa menuliskan tentang
rasa buah-buahan, makanan ringan, makanan berat, minuman, dan sebagainya. Kita
pun dengan mudah dapat menuliskan penilaian kita terhadap makanan atau minuman
yang kita rasakan lewat lidah kita. Dari lidah pun kita dapat membuat tulisan
yang sangat panjang, misalnya, ketika kita memakan suatu buah-buahan yang pada
awalnya manis, tetapi rasa manis itu lama-kelamaan menjadi pahit dan kesat, rasa
penasaran kita terhadap fenomena rasa itu akan menuntun kita untuk mencari
lebih jauh mengenai hal tersebut dan akan membuat tulisan kita semakin panjang,
lebih menarik, dan lebih informatif.
Pikiran
Pikiran kita pun dapat
menjadi alat yang sangat hebat untuk mendapatkan bahan tulisan. Pikiran ini
digunakan sebagai alat penyerap bahan tulisan, biasanya oleh mereka yang sudah
mahir menulis. Hal itu disebabkan bahan-bahan yang didapat dari proses berpikir
lebih rumit dibandingkan bahan yang didapat oleh mata, telinga, hidung, tangan,
kulit, atau lidah. Para penulis yang menggunakan pikiran ini sudah lebih mampu
mengorganisasikan ide-idenya sejak dalam pikiran sebelum dituangkan dalam tulisan.
Bahkan, melalui pikiran ini, penulis dapat mengkhayalkan sesuatu yang
sebenarnya tidak terjadi seolah-olah benar-benar terjadi dalam kenyataan
sehingga membuat kisah sendiri dalam dunia tersendiri.
Menulis
Sampai Buntu
Ketika salah satu alat
penyerap kita mendapatkan “sesuatu”, segeralah tulis ketika waktunya ada dan
pasti ada. Tulislah sesuatu berdasarkan apa yang diserap oleh alat penyerap
bahan tulisan kita. Tulislah jangan berhenti hingga kita merasa kehabisan bahan
untuk ditulis. Tulislah sampai kita merasa buntu dan tak mampu lagi untuk
menulis tentang sesuatu tersebut.
Biasakanlah menulis terus-menerus yang ringan-ringan,
jangan takut salah, dan jangan takut jelek. Kebiasaan kita menulis akan
mendorong otak kita untuk berpikir lebih sistematis dan menulis lebih
kronologis. Hasilnya akan kita ketahui jika kita sudah mulai menulis dan
terbiasa untuk menulis apa saja.
Simpanlah tulisan tersebut, jangan sampai hilang karena
suatu saat tulisan-tulisan tersebut akan menjadi sebuah tulisan baru yang jika
digabungkan akan menjadi suatu rangkaian yang mengagumkan. Bahkan, kita tidak
akan mempercayainya bahwa kita bisa menulis sebagus itu. Hal ini hanya bisa
dilihat dan dirasakan jika kita sudah terbiasa menuliskan sesuatu. Jika tidak,
kita hanya memiliki keinginan menulis tanpa pencapaian yang berarti.