Tuesday, 18 August 2015

Menyerap Bahan Tulisan

oleh Tom Finaldin

Untuk bisa menulis, hal pertama yang harus dimiliki adalah bahan-bahan untuk ditulis. Hal ini ibarat membuat kue. Untuk membuat kue, tentunya harus memiliki bahan-bahannya. Tidak mungkin kita dapat membuat kue tanpa memiliki bahan-bahan yang diperlukan. Demikian pula dengan menulis, kita harus memiliki bahan-bahan untuk ditulis.

            Kesulitan yang muncul biasanya karena seseorang ingin menulis sesuatu yang disebabkan “harus” menulis, misalnya, tugas sekolah, kerja, penelitian, skripsi, Penelitian Tindakan Kelas, tesis, dan disertasi. Bagi penulis pemula, tentu saja kondisi “terpaksa menulis” ini akan membuat tekanan luar biasa bagi dirinya. Artinya, dia ingin menulis dengan tujuan tertentu, tetapi belum memiliki kebiasaan untuk menulis. Akibatnya, tak ada tulisan apa pun yang dihasilkan.

Adakalanya pula orang yang ingin menulis tanpa ada situasi yang memaksa, tetapi kesulitan untuk memulainya.

Dari mana harus mulai?

Apa yang harus ditulis?

Untuk penulis pemula, sudah semestinya bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya memiliki bahan untuk ditulis?

Kalau sudah, tulislah jangan ragu sedikit pun. Jangan berpikir hasilnya nanti bagus atau tidak. Jangan pula bayangan “salah menulis” menghambat kita untuk mulai menulis. Target menulis dengan hasil “bagus” dan “benar” adalah hambatan besar yang ada di dalam diri penulis pemula. Seharusnya, target-target itu tidak pernah ada. Biarkan pikiran kita berkembang sejadi-jadinya dan tangan kita menulis sekehendak hati kita.

Bahan-bahan untuk dijadikan tulisan sebenarnya sangat banyak, ada di sekeliling kita. Kita hanya harus menggunakan seluruh indera yang kita miliki untuk menyerap bahan-bahan tulisan tersebut. Kita memiliki mata, telinga, lidah, hidung, kulit, perasaan, dan khayalan untuk dijadikan alat-alat yang dapat menyerap berbagai macam bahan yang dapat kita tulis.


Mata

Mata adalah alat yang kita gunakan sehari-hari untuk melihat. Hasil dari penglihatan kita dapat menjadi bahan untuk menjadi sebuah tulisan. Misalnya, ketika kita duduk di meja kantor, kita melihat barang-barang di meja kerja kita. Setiap barang yang kita lihat, dapat menjadi bahan tulisan. Jika melihat sebuah buku, kita bisa menuliskan tentang bentuknya, warnanya, ukurannya, letaknya di atas meja, kegunaannya, dan isinya. Jika ingin memanjangkan tulisan tentang buku tersebut, kita bisa menambahinya yang bukan sekedar fisik dari buku tersebut. Kita bisa menuliskan ke mana saja buku itu kita bawa, di mana kita simpan ketika dalam perjalanan, dari mana buku itu didapat, berapa harganya, kapan kita mendapatkannya, dan sebagainya. Dari buku tersebut, kita bisa menuliskan banyak hal hingga berlembar-lembar kertas. Tentu saja, hal yang paling mudah kita tulis adalah fisik buku tersebut yang kita lihat saat itu saja.

          Apalagi jika kita melihat seseorang yang membuat kita tertarik atau kita menyukainya. Kita bisa menulis tentang wajahnya, hidungnya, matanya, rambutnya, caranya berjalan, dan masih banyak lagi.

            Mata adalah alat penyerap data yang sangat efektif untuk dijadikan bahan tulisan.


Telinga

Kita dapat menggunakan telinga untuk menyerap bahan tulisan. Jika mendengar suara bising misalnya, kita bisa menulis bagaimana bisingnya suara tersebut sehingga kita merasa terganggu. Kita bisa mengembangkan kekesalan kita terhadap suara tersebut. Kita pun dapat menuliskan sumber suara tersebut, apa yang menyebabkan kebisingan itu, apa akibatnya bagi lingkungan sekitarnya. Di samping itu, kita pun dapat menuliskan bagaimana cara menghilangkan kebisingan tersebut atau sikap kita untuk menghindarinya.

            Demikian pula jika mendengar suara indah yang merdu, kita bisa menggambarkan rasa senang kita, mendeskripsikan asal suara, dan melukiskan lingkungan sekitar suara itu. Suara-suara yang menyenangkan itu bahkan bisa mendorong perasaan kita untuk melukiskan sesuatu yang romantis atau sesuatu yang membahagiakan.


Hidung

Dengan menggunakan hidung sebagai alat indera penciuman, kita bisa menuliskan bau yang tidak sedap dan wangi-wangian yang menyenangkan. Kita dapat melukiskan asal bau, akibat dari bau tersebut, benda yang menghasilkan wangi-wangian, serta sikap manusia terhadap bau atau wangi tersebut.


Tangan

Tangan kita pun dapat menyerap bahan tulisan. Jika kita memegang sesuatu, kita bisa menuliskan tentang sesuatu tersebut, misalnya, kekerasan atau kelembutannya; dingin, hangat, atau panas; ukurannya; bentuknya; jenis materialnya; kegunaannya.


Kulit

Kulit kita adalah alat peraba yang sangat efektif. Kulit kita bisa merasakan sakit, nyaman, gatal, cuaca, dan lain sebagainya. Hal-hal yang dirasakan kulit kita dapat menjadi bahan tulisan yang bisa berkembang lebih jauh. Misalnya, ketika kulit tangan kita menyentuh kulit tangan seseorang yang kita cintai, kita pun dapat menuliskan perasaan kita atas peristiwa tersebut.


Lidah

Lidah kita merupakan alat yang sangat baik untuk menyerap bahan tulisan. Kita bisa menuliskan tentang rasa buah-buahan, makanan ringan, makanan berat, minuman, dan sebagainya. Kita pun dengan mudah dapat menuliskan penilaian kita terhadap makanan atau minuman yang kita rasakan lewat lidah kita. Dari lidah pun kita dapat membuat tulisan yang sangat panjang, misalnya, ketika kita memakan suatu buah-buahan yang pada awalnya manis, tetapi rasa manis itu lama-kelamaan menjadi pahit dan kesat, rasa penasaran kita terhadap fenomena rasa itu akan menuntun kita untuk mencari lebih jauh mengenai hal tersebut dan akan membuat tulisan kita semakin panjang, lebih menarik, dan lebih informatif.


Pikiran

Pikiran kita pun dapat menjadi alat yang sangat hebat untuk mendapatkan bahan tulisan. Pikiran ini digunakan sebagai alat penyerap bahan tulisan, biasanya oleh mereka yang sudah mahir menulis. Hal itu disebabkan bahan-bahan yang didapat dari proses berpikir lebih rumit dibandingkan bahan yang didapat oleh mata, telinga, hidung, tangan, kulit, atau lidah. Para penulis yang menggunakan pikiran ini sudah lebih mampu mengorganisasikan ide-idenya sejak dalam pikiran sebelum dituangkan dalam tulisan. Bahkan, melalui pikiran ini, penulis dapat mengkhayalkan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi seolah-olah benar-benar terjadi dalam kenyataan sehingga membuat kisah sendiri dalam dunia tersendiri.


Menulis Sampai Buntu

Ketika salah satu alat penyerap kita mendapatkan “sesuatu”, segeralah tulis ketika waktunya ada dan pasti ada. Tulislah sesuatu berdasarkan apa yang diserap oleh alat penyerap bahan tulisan kita. Tulislah jangan berhenti hingga kita merasa kehabisan bahan untuk ditulis. Tulislah sampai kita merasa buntu dan tak mampu lagi untuk menulis tentang sesuatu tersebut.

            Biasakanlah menulis terus-menerus yang ringan-ringan, jangan takut salah, dan jangan takut jelek. Kebiasaan kita menulis akan mendorong otak kita untuk berpikir lebih sistematis dan menulis lebih kronologis. Hasilnya akan kita ketahui jika kita sudah mulai menulis dan terbiasa untuk menulis apa saja.

            Simpanlah tulisan tersebut, jangan sampai hilang karena suatu saat tulisan-tulisan tersebut akan menjadi sebuah tulisan baru yang jika digabungkan akan menjadi suatu rangkaian yang mengagumkan. Bahkan, kita tidak akan mempercayainya bahwa kita bisa menulis sebagus itu. Hal ini hanya bisa dilihat dan dirasakan jika kita sudah terbiasa menuliskan sesuatu. Jika tidak, kita hanya memiliki keinginan menulis tanpa pencapaian yang berarti.